Ending Cerpen “Berubah” by Gina Rosmalia

Di sekolah pun, anak-anak ramai membicarakan kematian Denis. Aku hanya bisa termenung dan melamun di pojokan sekolah. Putri yang sempurna ini telah hilang semangat hidupnya. Aku pikir orang-orang yang membenciku akan merasa senang dengan kesedihanku. Ternyata tidak. Mereka malah menghiburku. Apalagi Rahman yang selalu menceritakan cerita-cerita lucu, meski aku tak pernah merespon dia. Aku serasa kehilangan separuh jiwaku. Anita yang pernah aku siram dan ku maki-maki, mendekatiku dan bilang dia berduka atas semua ini. Sarah dan Mita malah yang tertawa terbahak-bahak melihatku seperti ini. Mereka bilang aku sudah gila. Tidak! Mereka yang gila.

Hahahahahahaaa.. Rasain kamu, makanya kalau kita baik-baikin kamu tuh nurut dong. Kita juga terpaksa kok berteman sama kamu. Sikap kamu yang arogan itu membuat kami pengen muntah kalau lihat muka kamu. Putri sempurna apa? Orang tua bercerai, pacar yang seorang gigolo sudah mati. Dan kamu gak punya teman lagi. Kasihan banget sih kamu. Ahaahahhahaa.” Ujar Sarah seraya disetujui Mita.

“Maaf, kalau aku punya salah sama kalian. Tapi, kalian juga punya hutang padaku.  Semua barang-barang dan uang yang sudah kuberi, harap dikembalikan. Semuanya total 30 juta. Kalau kalian tidak membayarnya dalam seminggu, kalian mati. Aku akan melaporkan kalian ke kantor polisi karena sudah meminta secara paksa uangku.” Aku tenang dan merasa menang.

“A.. a. apa??? Kamu mau menagih semua yang kamu beri? Semua uang dan barang yang sudah kami terima tak bisa diambil lagi.”

“Kenapa? Kalian takut? Aku sudah tahu sikap kalian yang berlebihan itu. Kalian hanya memanfaatkanku untuk memenuhi kesenangan kalian.”

“Memangnya kamu ada bukti untuk melaporkan kami ke polisi?” Sarah dan Mita terlihat tegang.

“Ada dong. Rekaman disaat kalian selalu berbelanja dengan uangku. Ada dua pilihan untuk kalian, kantor polisi atau bayar.” Aku tersenyum menang.

“Kamu… Jahat….” Ucap Mita.

“Kalian lebih jahat, dimana kalian saat aku bersedih. Kalian hanya mau bersenang-senang denganku. Saat aku sedih, kalian malah menertawakanku. Menghambur-hamburkan uangku. Dan tak ada rasa terimakasihnya sedikitpun. Harusnya kalianlah yang harus berbaik hati dan menurut padaku.” Aku pun pergi dengan kepedihan di hatiku. Aku memutuskan pergi ke mushola. Disana kulihat anak-anak rohis sedang bercengkrama. Semua yang kupikirkan tentang mereka, semuanya salah. Mereka tersenyum padaku. Mereka pun memperbolehkanku ikut mengobrol dengan mereka. Setelah aku ungkapkan apa yang terjadi padaku, kulihat ada yang menangis. Mereka menganjurkan aku untuk sholat tobat. Agar aku merasa tenang. Dan memang aku merasa tenang sekali saat dekat denagn mereka. Orang-orang baik ini, kenapa aku tidak berteman sejak dulu dengan mereka.

Aku bisa tertawa dengan ikhlas. Aku memutuskan untuk memakai hijab. Mereka senang dan mendukungku.

***

Sarah dan Mita telah mengembalikan semua uang dan barang yang telah kuberi. Itupun mereka meminta waktu dua bulan untuk melunasi semua itu.  Aku berpikir, untuk apa barang-barang ini? Akhirnya, aku mengadakan garage sell. Uang yang terkumpul aku sumbangkan untuk panti asuhan. Aku senang berbagi. Sherli yang sekarang harus lebih baik dari Sherli yang dulu. Putri yang sempurna ini harus bisa menyenangkan hati semua orang. Tak boleh ada sikap angkuh lagi, karena manusia dimata Tuhan  sama saja, yang membedakannya hanyalah keimanan dan ketakwaan.

Orang tuaku pun tak jadi bercerai. Mereka bilang semua hanya salah paham dan mereka memikirkanku. Aku benar-benar sangat bahagia. Aku pun selalu menyempatkan waktu mengunjungi keluarga Denis. Begitu pun makam Denis, sebulan sekali aku membersihkan makamnya.

Benar-benar hidup yang sempurna bila dilakukan dengan ikhlas dan penuh dengan kebaikan.

Ingat Rahman kan? Dia mencoba menyatakan perasaannya padaku, aku menolaknya lagi. Akan tetapi, dengan alasan yang berbeda.

“Aku ga mau pacaran dulu. Aku ingin sendiri dan menenangkan diri. Kalau kamu mau, tunggu aku sampai aku siap.” Ujarku pada Rahman. Dia ga jelek-jelek amat sih. Hehehehehe

“Kapan?” tanyanya.

“Sampai aku siap nikah. 5-10 tahun lagi. Bagaimana?” aku balik bertanya padanya.

“Hah? Selama itukah? Ehmm baiklah. Tapi, kamu jangan terima cinta orang lain ya?” ujar Rahman sambil sedikit memohon.

“Hahahhaaa.. Insya Alloh. Kalau jodoh gak akan kemana kan?” kami pun tertawa lepas.

Ya Alloh, ampuni hamba dan orang-orang yang hamba sayang. Berikan kami cahayaMu. Jalan lurus menujuMu bukan jalan yang berbelok-belok hingga kami tak sampai kepadaMu. Semoga hamba bisa menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Ammiiiin…

Semoga perubahan ini akan menjadi suatu jalan yang terbaik untukku. Jadi ingat lagunya Edcoustic..

Berubahkah aku hanya bila ada sesuatu
Terus aku pulang pada sikap sebelum kuberubah
Hanya sekedar sesuatu tak berapa lamapun itu
Jarang kuterendap dalam sikap dimana kuberubah

Tuhan aku hanya manusia
Mudah berubah lagi dalam sekejap
Tuhan aku ingin berubah
Dan kubertahan dalam perubahanku

 

Hidup tak selalu seperti yang kita inginkan. Kita hanya bisa merancang dan berusaha, tanpa izin Tuhan semua tidak akan berjalan dengan sempurna.

Manusia memiliki kesempatan kedua sebelum mereka mati. Mereka masih bisa berubah.

Kulihat sebuah cahaya di langit. Semoga perubahan ini menjadi awal yang baik untukku, keluargaku, teman-temanku, dan orang disekitarku.

 

17 Agustus 2011

12.00 WIB

One thought on “Ending Cerpen “Berubah” by Gina Rosmalia

  1. jika berbagi suatu ungkapan kebahagiaan dan kepuasan , akan keberikan itu untuk amalku,tapi…jangankan tuk berbagi …tuk sesuap nasipun aku dan keluarga terkadang harus berpikir lama sampai terasa melilit di perut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s